K.H. Junaidi bin Tsamar Wafat, Banten Kehilangan Ulama Khos dan Tokoh Keumatan Nasional

WANGSAKARA.COM, SERANG - Kabar duka menyelimuti masyarakat Banten. Salah satu ulama khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar, meninggal dunia pada Ahad, 16 Agustus 2026, sekitar pukul 08.30 WIB di RSUD Derajat Serang.

Kepergian ulama Banten Utara tersebut sontak menyisakan duka mendalam bagi masyarakat, khususnya para santri, kiai, jamaah, dan warga Nahdlatul Ulama. K.H. Junaidi dikenal sebagai salah satu ulama Banten yang memiliki kiprah hingga tingkat nasional.

Semasa hidupnya, K.H. Junaidi dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi penting dalam pembahasan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang berkembang di tengah umat.

Dokumentasi MUI menunjukkan bahwa K.H. Junaidi aktif menyampaikan pandangan keagamaan dalam berbagai forum nasional. Salah satunya terkait tata kelola zakat. Pada 2023, ia menjelaskan bahwa terdapat 25 fatwa MUI mengenai tata kelola zakat yang menjadi pedoman bagi Dewan Pengawas Syariah di Lembaga Amil Zakat. Ia menekankan pentingnya pengawasan agar pengelolaan zakat tetap sesuai dengan ketentuan syariat dan memberikan kemaslahatan yang luas bagi masyarakat.

K.H. Junaidi juga aktif dalam pembahasan persoalan-persoalan keagamaan kontemporer. Dalam rangkaian Pra-Ijtima Ulama Komisi Fatwa ke-VIII, misalnya, ia menyampaikan bahwa fatwa MUI sangat dinantikan umat, terutama dalam menjawab persoalan keagamaan yang muncul di tengah kehidupan masyarakat.

Kiprahnya di Komisi Fatwa MUI juga terlihat dalam berbagai agenda kelembagaan. Pada 2024, nama K.H. Junaidi tercatat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI dalam kegiatan Muntada Sanawi Dewan Pengawas Syariah Lembaga Amil Zakat Nasional.

Berakar dari Tradisi Pesantren Banten

Di tengah kiprahnya pada tingkat nasional, K.H. Junaidi tetap berakar kuat pada tradisi pesantren Banten. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum yang berada di Kampung Jati Pulo, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang.

Sejumlah dokumentasi publik juga menyebut K.H. Junaidi sebagai salah satu ulama salaf Banten dan pengasuh Ponpes Darul Ulum. Dalam sebuah kegiatan silaturahmi ulama Banten, ANTARA mencatat K.H. Junaidi sebagai tuan rumah sekaligus salah satu ulama yang hadir bersama sejumlah tokoh ulama salaf Banten lainnya.

Sementara itu, RMI PWNU Banten mencatat sosok KH Ahmad Junaidi sebagai ulama NU asal Banten yang menjadi bagian dari Syuriah PWNU Banten dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Sumber tersebut juga menyebut bahwa pengasuh Pesantren Darul Ulum itu merupakan murid dari KH Mufti Asnawi, ulama Banten yang dikenal memiliki keilmuan dalam bidang fikih dan ilmu nahwu.

Kedekatannya dengan dunia pesantren membuat aktivitas keulamaan K.H. Junaidi tidak berhenti pada forum-forum nasional. Ia juga aktif membina para santri dan masyarakat di lingkungan pesantrennya.

Dalam salah satu kegiatan yang terdokumentasi Pemerintah Kabupaten Serang, K.H. Junaidi sebagai pimpinan Ponpes Darul Ulum menyampaikan pentingnya pembinaan generasi muda Nahdlatul Ulama. Ia juga menekankan pentingnya menjaga NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ulama yang Memilih Jalan Khumul

Meski menduduki jabatan penting di tingkat nasional, K.H. Junaidi dikenal sebagai sosok yang tidak mengejar popularitas.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Asrorunn’iam Soleh dalam sambutannya saat salat jenazah. Menurut Prof. Niam, K.H. Junaidi merupakan ulama yang memilih jalan khumul, yakni tidak menonjolkan diri dan tidak mengejar popularitas meskipun memiliki kedudukan tinggi dalam lembaga keulamaan.


“Beliau adalah ulama yang zuhud dan memilih khumul. Setiap ucapan dan penyampaiannya selalu merujuk pada kitab-kitab klasik (turats) dengan referensi keilmuan yang sangat kaya,” ujar Prof. Niam.

Menurutnya, karakter tersebut justru menjadi salah satu kekuatan K.H. Junaidi. Jabatan sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat tidak membuat almarhum berubah menjadi sosok yang gemar tampil dan mencari pengakuan publik.

“Beliau sosok ulama faqih, ikhlas, aktif, zuhud, dan wara’. Semoga menjadi ahlil jannah,” kata Prof. Niam.

Ribuan Jamaah Iringi Salat Jenazah

Jenazah K.H. Junaidi kemudian disalatkan di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum, Cakung. Ratusan kiai, para pejabat, santri, serta ribuan jamaah memadati kompleks pesantren untuk memberikan penghormatan terakhir.

Bupati dan Wakil Bupati juga tampak hadir bersama para tokoh agama dan masyarakat. Kehadiran ribuan pelayat tersebut menunjukkan besarnya penghormatan masyarakat terhadap sosok K.H. Junaidi.

Bagi masyarakat Banten, khususnya kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama, kepergian K.H. Junaidi merupakan kehilangan besar. Ia bukan hanya seorang pengasuh pesantren, tetapi juga ulama yang dipercaya membawa suara keilmuan Banten dalam berbagai forum keagamaan tingkat nasional.

Jejak pengabdiannya terbentang dari pesantren, organisasi keulamaan, hingga lembaga fatwa nasional. Ia dikenal memiliki kedalaman ilmu, kuat dalam tradisi turats, aktif menjawab persoalan keumatan, tetapi pada saat yang sama memilih hidup sederhana dan jauh dari gemerlap popularitas.

K.H. Junaidi telah berpulang. Namun, ilmu, keteladanan, dan khidmahnya kepada umat akan terus hidup melalui para santri, murid, jamaah, serta masyarakat yang pernah bersentuhan dengan perjuangannya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahan almarhum, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, mengangkat derajatnya di sisi-Nya, serta menempatkan K.H. Junaidi bin Tsamar di tempat terbaik, di antara hamba-hamba-Nya yang saleh.

Posting Komentar untuk "K.H. Junaidi bin Tsamar Wafat, Banten Kehilangan Ulama Khos dan Tokoh Keumatan Nasional"